Teladan Kartini untuk Perempuan masa kini
|
Oleh: Asfiya Nur Akhlis (Staf Panwascam Tuban Kabupaten Tuban)
tuban.bawaslu.go.id - Siapa sih perempuan itu? Perempuan itu identik dijadikan koco wingking, perempuan sering kali dijadikan objek nomer sekian dan bahkan sering kali rentan akan sebuah kekerasan bias gender. Apakah betul semua perempuan seperti itu? Tidaaak. Contoh kecilnya ada R.A kartini yang namanya sering kali kita dengar ditelinga. Beliau merupakan pejuang emansipasi perempuan zaman dahulu hingga saat ini masih kita kenang.
R.A Kartini merupakan sesosok perempuan hebat dan luar biasa. Beliau mampu berekspresi ditengah pingitan jawa yang identik terlalu membatasi ruang gerak perempuan. Beliau mampu berkirim surat dengan teman" belandanya, beliau bertukar fikiran hingga kini kita sebut dengan adanya surat R.A. kartini. Budaya dan gaya hidup orang jawa yang harus beliau taati. Sanggul rambutnya, kebaya yang beliau gunakan, jalannya yang begitu anggun. Apakah kartini jaman sekarang harus melestarikan hal semacam itu? Ada hal yang harus kita contoh, ada hal yang harus kita tinggalkan. Kartini mau bangkit dari kebudayaan jawa itulah yang harus kita contoh. Melihat kondisi saat ini, kondisi dimana Indonesia sedang menghadapi Covid 19 harusnya kita bisa memaksimalkan era digital dengan baik. Kita bisa seperti kartini membuat tulisan yang nantinya akan dikenal layaknya kartini. Perempuan saat ini sudah banyak yany berpendidikan tinggi. Ini buki real bahwasnya perempuan bisa. Perempuan tak hanya menjadi ibu rumah tangga, perempuan bisa berekspresi di setiap lini.
Kalau bukan kita? Mau siapa lagi? Kesetaraan gender yang selalu didengungkan para Kaum pejuang emansipasi perempuan. Apakah kita sudah turut andil mengambil alih dari peran perempuan sesungguhnya? Bicara tentang setara saat ini hanya sebatas setara dalam konteks biologis. Konteks sosial budaya kita yang masih belum tuntas dan harusnya kita yang harus menylesaikan persoalan itu. Karena bicara tentang kesetaraan gender berarti peran dan fungsi antara laki" dan perempuan dilihat dari konteks sosial dan budaya. Ketika laki bisa berada di ranah public, kenapa perempuan tidak bisa? Apa karena malu, apa karena kurang PD dan lain sebagainya. Itu hal kecil yang harus kita asah saat ini. Karena perempuan adalah madrasah utama bagi anak" dan keluarga. Al maratu imadul bilad "perempuan adalah tiangnya negara" jika perempuan baik maka akan baik pula negaranya.
Selamat memperingati Hari karini 21 April 2020. Semoga kita dapat mencotoh R.A Kartini sebagai sesosok pejuang emansipasi perempuan. Kartini masa kini harus hebat, mandiri dan berdikari.