Bawaslu Tuban Ajak Pemilih Pemula Tak Sekadar Memilih, tapi Ikut Mengawal Demokrasi
|
Tuban — Bawaslu Kabupaten Tuban kembali menggelar Bawaslu Goes to School melalui Sosialisasi Pengawasan Partisipatif di SMK Taruna Jaya Prawira (TJP) Tuban, Rabu (26/8/2026). Mengusung tema “Pendidikan Demokrasi untuk Pemilih Pemula”, kegiatan ini menyasar siswa berusia 17–18 tahun yang mulai memasuki pengalaman pertama menggunakan hak pilih.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi Bawaslu Tuban untuk mengenalkan demokrasi dan kepemiluan kepada generasi muda. Para siswa diajak memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara sekaligus melihat posisi mereka dalam menjaga kualitas proses demokrasi.
Komisioner Bawaslu Kabupaten Tuban Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa, Sutrisno Puji Utomo, menyampaikan materi mengenai prinsip-prinsip demokrasi, kepemiluan, serta pengawasan partisipatif. Ia menekankan bahwa menjadi pemilih pemula bukan sekadar soal mencoblos untuk pertama kali.
Menurut Sutrisno, usia 17 tahun membawa tanggung jawab baru bagi generasi muda. Mereka memiliki hak menentukan pilihan politik, tetapi juga perlu memahami proses yang melatarbelakangi pilihan tersebut.
“Pemilih pemula bukan sekadar pemilih yang baru pertama kali memberikan suara. Mereka merupakan bagian penting dari masa depan demokrasi. Karena itu, perlu dibekali pemahaman agar mampu menentukan pilihan berdasarkan informasi yang benar dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan,” jelas Sutrisno.
Pesan itu kemudian dikaitkan dengan pengawasan partisipatif. Menurutnya, pengawasan pemilu membutuhkan keterlibatan masyarakat. Generasi muda punya peran yang cukup besar karena aktivitas mereka banyak berlangsung di ruang digital, tempat informasi politik dan kepemiluan beredar dengan cepat.
Para siswa diajak mengenali berbagai hal yang dapat mengganggu kualitas demokrasi, mulai dari hoaks, ujaran kebencian, politik uang hingga dugaan pelanggaran pemilu lainnya. Mereka juga didorong untuk tidak terburu-buru mempercayai informasi yang diterima.
Kebiasaan sederhana seperti memeriksa sumber informasi sebelum membagikannya menjadi salah satu bentuk partisipasi. Sikap kritis juga diperlukan agar pemilih pemula tidak mudah terseret informasi yang keliru atau menyesatkan.
Bawaslu Tuban berharap pendidikan demokrasi di sekolah dapat membangun kesadaran sejak awal. Partisipasi dalam demokrasi, kata Sutrisno, tidak berhenti ketika pemilih datang ke tempat pemungutan suara. Ada tanggung jawab lain yang bisa dilakukan, yakni ikut menjaga prosesnya tetap jujur, adil, dan berintegritas.
Melalui Bawaslu Goes to School, Bawaslu Kabupaten Tuban terus mendorong pemilih pemula menjadi generasi yang cerdas dalam menentukan pilihan sekaligus berani mengambil bagian dalam pengawasan demokrasi. Dengan bekal tersebut, siswa SMK TJP Tuban diharapkan mampu menjadi pemilih yang kritis, bertanggung jawab, dan turut menjaga kualitas demokrasi di masa mendatang.
Penulis: Siti Nur Fadhilah
Foto: Dimas Arief B